Senin, 19 November 2007

Evaluasi tentang hubungan antara Nilai Rapor, Uji Kompetensi dan UNAS

Sebelumnya mohon maaf, jika nanti ada kelompok lain yang memiliki hasil analisa yang lebih valid lagi dalam meng-evaluasi atau mencari korelasi dalam prestasi siswa antara ketiga nilai tersebut ... kami mencoba dengan software SPSS versi 11.5 dalam melaksanakan tugas kelompok mata kuliah statistik ... Kami mengambil sample dari dokumen sekolah terhadap 1 kelas siswa yang baru lulus tahun 2006/2007 Program Keahlian Multimedia di SMKN 1 Surabaya ... Inilah hasil test uji kami ...

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sehubungan dengan telah dibukanya Bidang Keahlian Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di SMK Negeri 1 Surabaya, mulai tahun pelajaran 2003/ 2004, sekolah berkewajiban mempersiapkan siswa/ tamatan agar dapat bersaing dalam pasar kerja terbuka, sesuai tuntutan penguasaan kompetensi era global yang ditandai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat.

Dalam proses pembelajaran sejak diberlakukannya kurikulum SMK edisi 2004 telah banyak perubahan untuk mencapai tujuan, dengan harapan mendapatkan hasil yang optimal, sehingga bermanfaat bagi semua pihak terkait. Untuk mengukur keberhasilan siswa, perlu diperhatikan adanya standar dan kriteria penilaian sehingga siswa dinyatakan lulus atau tidak lulus, dan oleh dunia kerja dinyatakan kompetensi atau tidak kompetensi. Adapun jenis mata pelajaran pada setiap program keahlian dibagi dalam 3 kelompok yaitu (1) Kelompok Normatif yang terdiri dari Agama, PPKN, Bahasa dan Sastra Indonesia, Pendidikan Jasmani dan Kesehatan serta Sejarah Nasional dan Umum; (2) Kelompok Adaptif, terdiri dari Matematika, Bahasa Inggris, Fisika, Kimia, Komputer dan Kewirausahaan; (3) Kelompok Produktif yaitu mata pelajaran yang terkait dengan bidang keahlian yang dipilih oleh siswa yang bersangkutan.

Dasar Hukum Pelaksanaan adalah :
1. Renstra Depdiknas 2005-2009
2. Kurikulum untuk Sekolah Menengah Kejuruan edisi 2004 maupun kurikulum produktif untuk program keahlian TIK, yang telah disusun secara dinamis dan fleksibel agar mampu mengantisipasi dan mengikuti berbagai perkembangan yang terjadi.
3. Program kerja sekolah 2004/2005 yang setiap tahunnya disusun dan dikembangkan sebagai pedoman kerja bagi masing-masing program keahlian.
Untuk mengimplementasikan program-program tersebut berbagai hambatan baik dari siswa, orangtua siswa, sekolah maupun dunia kerja sebagai tempat praktek kerja siswa sebelum mereka tamat sangat bervariasi. Untuk itu berbagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui kerjasama antara SMK Negeri 1 Surabaya dengan partnership diwujudkan dalam bentuk penilaian bersama atas beberapa Kompetensi dan Sub Kompetensi yang ada dalam kelompok Produktif. Untuk itu harus diadakan penilaian bersama untuk melihat hasil evaluasi yang dilakukan oleh Sekolah, Dunia Kerja maupun Ujian Nasional pada mata pelajaran tertentu.

1.2 Rumusan Permasalahan
Dari berbagai kendala yang ada, teridentifikasi beberapa permasalahan lapangan sebagai berikut :
- Beberapa kesulitan dalam mensinkronkan antara materi diklat yang ada di Sekolah dengan yang dibutuhkan oleh dunia kerja, khususnya produktif.
- Belum teridentifikasinya secara jelas antara hasil hasil prestasi siswa di sekolah dengan nilai kompetensi yang diberikan oleh dunia kerja, serta nilai prestasi dalam UNAS.

1.3 Batasan Permasalahan
Melihat hasil evaluasi pada beberapa kelompok pelajaran Program Keahlian Multimedia di SMK negeri 1 Surabaya.

1.4 Tujuan dan Sasaran
Tujuan dari analisa statistik ini antara lain untuk mengukur dan mencari hubungan antara nilai di sekolah dengan nilai kompetensi di tempat praktek kerja. Sedang sasarannya adalah untuk memberi gambaran tentang sistem penilaian terhadap siswa pada dua tempat yang berbeda, dengan siswa yang sama.

GAMBARAN UMUM DAN LANDASAN KEBIJAKAN

2.1 Gambaran Umum tentang SMK
Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik untuk bekerja dalam bidang tertentu. Tujuan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah : (a) mempersiapkan peserta didik agar menjadi manusia produktif, mampu bekerja mandiri, mengisi lowongan pekerjaan yang ada di dunia usaha dan dunia industri sebagai tenaga kerja tingkat menengah, sesuai dengan kompetensi dalam program keahlian yang dipilihnya; (b) membekali peserta didik agar mampu memilih karier, ulet dan gigih dalam berkompetensi, beradaptasi di lingkungan kerja, dan mengembangkan sikap profesional dalam bidang keahlian yang diminatinya, (c) membekali peserta didik dengan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, agar mampu mengembangkan diri dikemudian hari baik secara mandiri maupun melalui jenjang pendidikan yang lebih tinggi.(Kurikulum SMK Edisi 2004)

Melalui pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) diharapkan dapat mewujudkan peningkatan potensi ekonomi tersebut, karena SMK mempersiapkan tamatan yang memiliki kompetensi produktif, adaptif dan inovatif untuk dapat menjadi tenaga terampil yang siap kerja sesuai dengan bidang dan program keahliannya. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Program Keahlian Teknologi Informasi sebagai bagian dari Pendidikan Menengah Kejuruan, bertujuan untuk menyiapkan siswa / tamatan untuk:

a. Memasuki lapangan kerja serta dapat mengembangkan sikap profesional dalam lingkup keahlian Teknologi Informasi dan Komunikasi
b. Mampu memilih karir, mampu berkompetisi dan mampu mengembangkan diri dalam lingkup keahlian Teknik Informasi Dan Komunikasi
c. Menjadi tenaga kerja tingkat menengah untuk mengisi kebutuhan dunia usaha dan industri pada saat ini maupun masa yang akan datang dalam lingkup keahlian teknik informasi dan komunikasi.
d. Menjadi Warga Negara yang Produktif, Adaptif Dan Kreatif.

Setelah menjalani pendidikan dan pelatihan di Sekolah, sebagai dasar pengetahuan dan ketrampilan siswa sesuai dengan tingkatnya, maka sebelum melanjutkan ke tingkat berikutnya, diharapkan siswa dapat :
a. Melaksanakan praktek kerja di dunia usaha / dunia industri sesuai dengan bidang keahliannya.
b. Mengaplikasikan materi pendidikan dan pelatihan yang telah diterima di sekolah sebagai pedoman dasar untuk diterapkan pada dunia kerja.
c. Mengukur tingkat kemampuan dan keberhasilan siswa dalam proses pembelajaran di sekolah.
d. Meningkatkan ketrampilan siswa, agar dalam proses pembelajaran ke jenjang berikutnya dapat mengetahui bidang pekerjaannya, sehingga dapat diharapkan mampu berimprovisasi dan berkreasi setelah tamat nanti.

2.2 Program Peahlian Multimedia SMK Negeri 1 Surabaya
Untuk tahap pertama, SMK Negeri 1 Surabaya akan mengirimkan siswa – siswi bidang keahlian Teknologi Informasi dan Komunikasi, program Keahlian Multimedia dengan pembekalan materi untuk tingkat 1 sampai tingkat 3 adalah sbb :
Tingkat I
1. Mengoperasikan periferal multimedia :
2. Mengembangkan ilustrasi digital (digital illustration)
3. Mengembangkan pencitraan digital (digital imaging)
4. Mengembangkan laman [web]
5. Mengembangkan animasi dimensi dua (2D animation)
Tingkat II
6. Mengembangkan visualisasi dimensi tiga (3D visualization)
7. Mengembangkan animasi dimensi tiga (3D animation)
Tingkat III
8. Merekam suara
9. Menyunting suara
10. Merekam gambar
11. Menyunting video
12. Mengembangkan efek visual
13. Mengembangkan aplikasi multimedia

2.3 Sistem Praktek Kerja Industri (Prakerin)
Instruktur dalam pelaksanaan praktek industri adalah pembimbing yang ditunjuk oleh institusi pasangan untuk membimbing siswa di tempat praktek. Seperti telah dicantumkan dalam kurikulum, waktu praktek kerja industri diatur sebagai berikut :
a. Minimum 3 bulan kerja, mengikuti minggu dan jam kerja industri;
b. Boleh lebih 3 bulan kerja jika kegiatan bekerja di industri memberi nilai tambah yang lebih tinggi bagi industri maupun bagi siswa yang bersangkutan;
c. Kegiatan di industri dapat dimulai dari tingkat I dengan catatan industri yang bersangkutan mampu memberi keterampilan dasar dan sebaiknya tidak langsung bekerja di lini produksi.

Setelah melampaui ketiga tahapan tersebut, siswa akan diuji kemampuannya yang hasilnya berupa nilai rapor untuk melihat prestasi di sekolah pada tiap semester, nilai uji kompetensi yang diuji secara internal (oleh guru produktif) dan eksternal oleh DU/DI ( Dunia Usaha dan Dunia Industri) sebagai partnership sekolah pada program keahlian yang bersangkutan. Saat ini yang menguji adalah dari PENS ITS dan Jawa Pos Groups Surabaya. Dan terakhir nilai UNAS.

METODA DAN ANALISA

3.1 Metoda
Metoda yang digunakan untuk mengetahui hubungan antara prestasi siswa di sekolah (nilai raport kelas tiga dan nilai UNAS) dengan hasil uji kompetensi pada Program Keahlian Multimedia di SMP Negeri 1 Surabaya adalah dengan :
a. Analisis Varian (ANOVA), dengan menggunakan variabel :
- Nilai uji kompetensi untuk dependent variabel
- Nilai Rapor Kelas tiga dan Nilai UNAS untuk fixed faktor
b. Analisis Regresi Berganda, dengan menggunakan variabel :
• Nilai uji kompetensi untuk variabel Y
• Nilai Rapor Kelas tiga untuk X1 (6, 7 dan 8)
• Nilai UNAS untuk X2 (1 = baik, 2 = cukup dan 3 = kurang)

3.2 Data
Dari data nilai siswa di Sekolah di SMK Negeri I Surabaya, dapat diperoleh data untuk mengetahui hubungan antara prestasi siswa di sekolah (nilai raport kelas tiga dan nilai UNAS) dengan hasil uji kompetensi pada Program Keahlian Multimedia di SMK Negeri 1 Surabaya, yaitu :

Tabel 1. Klasifikasi Data Nilai Siswa

3.3 Analisa
a. Analisis Varian (ANOVA)
Hasil analisa varians dari output komputer dapat dilihat pada tabel berikut :

Gambar 1. Analisa Varian

Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa :
Pengujian Hipotesis
Ho : Nilai Rapor dan nilai UNAS tidak ada pengaruhnya pada nilai uji kompetensi
H1 : Nilai Rapor dan nilai UNAS ada pengaruhnya pada nilai uji kompetensi
Statistik Uji
Pvalue didapat 0,000 < 0,05 --> Pvalue < α, yaitu tolak Ho berarti minimal ada satu yang tidak sama. Untuk mengetahui pasangan mana yang tidak sama dapat dilihat pada post hoc test.

Gambar 2. Post Hoc Test Nilai Rapor

Dari hasil input dapat diketahui :
6 --> 7 : 0.206 > 0.05 terima Ho sehingga µ6 = µ7
7 --> 8 : 0.039 < 0.05 tolak Ho sehingga µ7 ≠ µ8
6 --> 8 : 0.002 < 0.05 tolak Ho sehingga µ6 ≠ µ8

Gambar 3. Post Hoc Test Nilai UNAS

Dari hasil input dapat diketahui :
Baik --> cukup : 0.14 > 0.05 terima Ho sehingga µbaik = µcukup
Baik --> kurang : 0.000 < 0.05 tolak Ho sehingga µbaik ≠ µkurang
Cukup --> kurang : 0.192 > 0.05 terima Ho sehingga µcukup = µkurang
Dari hasil analisa varians didapatkan faktor-faktor mana yang sangat berpengaruh pada nilai uji kompetensi, yaitu dengan melihat dari hasil profil plot, sebagai berikut:
Grafik 1. Hasil Analisa Varians

Dari grafik diketahui bahwa factor yang mempengaruhi nilai uji kompetensi tinggi adalah siswa dengan nilai UNAS baik dan nilai rapor lebih dari 7.

Sehingga dapat disimpulkan :
Penelitian menolak Ho dengan Pvalue 0,000 < 0,05 (α = 5%), sehingga dapat diketahui bahwa nilai rapor dan nilai UNAS mempengaruhi nilai uji kompetensi.

b. Analisis Regresi
Hasil output komputer dari analisa regresi dapat dilihat pada uraian berikut :


Dari output dapat diketahui :
Model regresi : C3 = 6.27 + 0.172 C1 - 0.197 C2 atau
Nilai Uji Kompetensi = 6.27 + 0.172 Nilai UNAS – 0.197 Nilai Rapor
Statistik uji :
a. Pvalue constant : 0.000 < 0.05 --> tolak Ho
Berarti model yang digunakan sudah benar/ sesuai dan berpengaruh terhadap nilai uji kompetensi.
b. Pvalue nilai UNAS : 0.003 < 0.05 --> tolak Ho
Berarti nilai UNAS mempengaruhi nilai uji kompetensi
c. Pvalue nilai Rapor :0.001 < 0.05 --> tolak Ho
Berarti nilai Rapor mempengaruhi nilai uji kompetensi

Nilai koefisien determinan (R2) --> 42,7%
Berarti nilai UNAS, nilai Rapor mempengaruhi nilai uji kompetensi sebessar 42.7% sehingga masih ada 57.3% variabel lain yang mempengaruhi nilai uji kompetensi.

Gambaran Model :
Model yang digunakan sesuai untuk mengetahui pengaruh nilai UNAS dan nilai rapor berpengaruh terhadap nilai uji kompetensi di SMKN 1 Surabaya.

Dari hasil analisa regresi diperoleh grafik uji identik, uji independent dan uji distribusi normal.
Grafik 2. Uji Identik

Grafik 3. Uji Independent

Grafik 4. Uji Distribusi Normal

KESIMPULAN
Dari hasil analisa ANOVA dan regresi didapatkan kesimpulan sebagai berikut :
4.1 Nilai UNAS dan nilai rapor sudah sesuai dengan model regresi yang digunakan, yaitu Y = 6.27 + 0.172 X2 - 0.197 X1
4.2 Model yang digunakan (nilai UNAS dan nilai rapor) berpengaruh terhadap nilai uji kompetensi sebesar 42.7%
4.3 Masih ada 57.3% variabel lain yang dapat mempengaruhi nilai uji kompetensi.
4.4 Nilai uji kompetensi tinggi yang diperoleh siswa dengan nilai UNAS baik dan nilai rapor lebih dari 7, artinya ketiga nilai tersebut saling berpengaruh.

2 komentar:

Moh. Noor Al 'Azam mengatakan...

Kalau ada variable lain yang menentukan nilai kompetensi selain rapor dan UNAS, kira-kira apa Bu ya?? Apakah uji kompetensi ini dilakukan penilaian secara subyektif sifatnya? sehingga mungkin pemberian nilai sedikit 'diangkat' sehingga tidak tercermin di rapor dan UNAS?

endahgf mengatakan...

sebenarnya bisa, misalnya nilai dari industri waktu praktek/magang, tetapi rata-rata industri masih memberi dan memperlakukan siswa praktek hanya formalitas, artinya kurang optimal. sehingga nilainyapun belum bisa dijadikan ukuran. Walau sudah ada beberapa yang menempatkan mereka secara profesional, tetapi sedikit sekali. Padahal saya ambil sapel dari 1 kelas secara acak.
Makasih komentarnya pak Noor, ada teman diskusi mikirkan hasil kerja kita dari komunitas. Yang juga mewaliki industri...:)